Review Omen

Konnichiwa! Selamat datang di Pojok Aura dan bertemu lagi dengan saya di Pojok Review.


   
sumber: goodreads.com dan ebooks.gramedia.com

Pernah mendengar tentang Lexie Xu? Bagi para pembaca novel, nama ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga. Lexie Xu adalah penulis kisah-kisah bergenre misteri dan thriller yang namanya sudah merebak di seluruh Indonesia. Beberapa seri yang ditulis oleh Kak Lexie adalah Johan Series, Omen Series, dan Dark Series.

Pada konten kali ini, saya ingin mereview buku pertama dari Omen Series, yaitu Omen sendiri. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. Saya pertama kali membaca novel ini pada saat saya duduk di bangku kelas 3 SD, lebih tepatnya tahun 2017. Sebenarnya ini adalah novel milik kakak perempuan saya. Namun pada saat itu, saya masih tidak terlalu mengerti dengan alur cerita novel ini, karena memang sedikit berat untuk anak usia 10 tahun. Saya membacanya ulang baru-baru ini dan baru menyadari bahwa novel ini sangat menarik.

Sebelumnya saya akan mengingatkan, review ini mengandung spoiler. Harap bijak dalam membaca.


Novel ini menceritakan tentang Erika Guruh, seorang remaja SMA yang terkenal dengan sebutan Omen karena tampang seram dan reputasi jeleknya. Erika memiliki seorang adik kembar bernama Eliza Guruh. Meskipun kembar, kedua gadis ini memiliki sikap yang berbeda 180°. Jika Erika terkenal akan sikap beringasnya, Eliza terkenal sebagai primadona sekolah yang sangat dikagumi semua orang. Cantik, pintar, anggun, Eliza memiliki berbagai kelebihan yang membuatnya dipuja-puja, dan Erika jelas tidak menyukai hal itu. Dibanding-bandingkan dengan Eliza sejak kecil –bahkan oleh orangtuanya sendiri– membuat Erika membenci Eliza. 

Cukup benci sampai mendorongnya untuk membunuh Eliza, setidaknya itulah yang orang-orang pikirkan. Setelah kematian Eliza yang mengenaskan, beberapa siswa dari SMA Harapan Bangsa ditemukan tertusuk, dan semua bukti mengarah ke Erika. Namun, Erika merasa itu tidak benar. Dia bukan pelakunya. Bersama dengan tukang ojek berwajah masam dan seorang gadis culun dari kelas unggulan, Erika berusaha mengungkap kasus ini dan membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Pada awal novel, kita akan disuguhkan peristiwa dari sudut pandang Eliza. Kita bahkan dapat merasakan detik-detik terakhir sebelum Eliza ditusuk. Menurut saya yang tidak menyukai Eliza, bab pertama ini membuat saya gregetan. Namun pemilihan point of view ini cukup unik dan menarik untuk suatu permulaan. Para pembaca dibuat ikut penasaran dengan isi pikiran Eliza, yang notabenenya merupakan 'musuh' dari tokoh utama kita, Erika. Bab-bab selanjutnya dituliskan dari sudut pandang Erika, meskipun ada juga bab yang ditulis dari sudut pandang Valeria (dia adalah gadis culun yang saya sebutkan tadi).

Untuk character design, saya pribadi sangat menyukainya. Erika, si Omen yang sebenarnya baik dan memiliki sisi feminim tak terduga, seperti menyukai kakak kelas yang populer. Eliza, primadona sekolah yang berjuang sekuat tenaga untuk menjaga image sempurnanya. Valeria, gadis culun yang merupakan putri tunggal seorang pengusaha ternama, baik dalam bela diri dan berani mengambil resiko. Ojek, kang ojek langganan Erika yang memiliki muka masam, motor moge, dan uang banyak yang tak tau dari mana. Ferly, Daniel, Amir, dan masih banyak lagi. Tiap karakter memiliki ciri khas mereka masing-masing dan saya sangat suka dengan penggambaran mereka. 

Character development serta chemistry antar karakter juga ditata dengan baik. Saya sangat suka melihat perkembangan hubungan antar karakter, baik yang menjadi lebih dekat ataupun yang malah makin menjauh. Hal ini membuat saya penasaran dengan perkembangan mereka di buku-buku Omen Series selanjutnya.

Untuk misterinya sendiri, menurut saya ini tidak terlalu berat. Awal mula konflik, masalah-masalah yang terjadi di pertengahan cerita, bukti-bukti yang dikumpulkan, hingga klimaks terhubung dengan rapi dan tidak membingungkan. Saya tidak tahu ini dikarenakan saya yang sudah sempat membacanya –meskipun 5 tahun yang lalu– atau karena kapasitas otak saya yang sudah bertambah selisih berjalannya usia, namun yang jelas, menurut saya Omen cukup mudah dipahami dan cocok untuk mereka yang masih baru di genre thriller dan misteri.

Bagi mereka penyuka genre thriller-misteri yang fokus dengan misteri yang berat, mungkin Omen memang terlalu simpel. Namun secara keseluruhan, saya sangat merekomendasikan novel ini, karena ceritanya tidak hanya fokus kepada misteri namun juga ada selipan komedi serta romansa yang membuatnya terkesan santai dan mudah dinikmati.

Saat ini, saya sedang mengoleksi Omen Series yang total berjumlah 7 buku. Saya sudah memiliki buku pertama (Omen) dan buku kedua (Tujuh Lukisan Horor). Saya belum sempat membaca Tujuh Lukisan Horor dikarenakan jadwal sekolah yang padat, namun saya berencana untuk membacanya secepatnya. Sekarang, saya sedang menabung untuk membeli buku ketiga sampai ketujuhnya. Doakan saya bisa segera mengumpulkan semuanya, ya. Hehe.

Baik sekian review dari saya, review ini sendiri tidak sempurna maka saya mohon maaf kalau ada kurang lebihnya, dan terima kasih telah menyempatkan untuk membaca!




Komentar

Postingan Populer