Pojok Karya : Kisah Tentang Kakek, Gadis, dan Sebuah Botol

Konnichiwa ! Selamat datang di Pojok Aura dan bertemu lagi dengan saya di Pojok Karya.


Apa kalian pernah membaca teks inspiratif? Sebenernya apa sih teks inspiratif itu? Dikutip dari 'Materi Umum Bahasa Indonesia SMP' terbitan Puri Cipta Media, cerita inspiratif adalah jenis teks narasi yang menyajikan suatu inspirasi keteladanan kepada banyak orang. Cerita itu bisa menggugah atau menginspirasi seseorang untuk berbuat baik. Nah, pada konten kali ini saya ingin membagikan salah satu teks cerita inspiratif karya saya. Yup, teks ini asli buatan saya, loh! Tidak copas dari mana-mana. Teks ini sendiri menggunakan sebuah botol kaca sebagai ilustrasi yang menjadi inti dari amanat yang hendak saya sampaikan. Hah?! Kok bisa botol kaca dibuat menjadi suatu teks inspiratif?! Kalau ingin tau selengkapnya, baca teks saya ini, ya!


Selamat membaca <3


KISAH TENTANG KAKEK, GADIS, DAN SEBUAH BOTOL

 

Matahari baru saja terbenam. Gerimis masih turun di kota yang ramai penduduk itu. Jalanan masih padat, seolah menolak untuk beristirahat. Seorang kakek tua berjalan menyusuri jalan raya sambil mendorong gerobak penuh sampah. Tubuhnya kurus kering, bajunya lusuh dan celananya robek-robek. Topinya tampak sudah berusia puluhan tahun. Dari penampilannya saja, semua orang bisa menilai dia adalah pemulung. Saat lewat, banyak orang yang menghindarinya, bahkan ada yang meledeknya secara tidak langsung, menutup hidung mereka seolah mereka mencium sesuatu yang bau. Namun sang kakek tampak tidak peduli. Ia berjalan dengan tersenyum, sambil menyenandungkan lagu yang populer pada masa mudanya.

Kakek berhenti di bawah sebuah pohon untuk istirahat sejenak. Kebetulan, pohon tempat kakek beristirahat cukup dekat dengan sebuah JPO lama yang tampaknya tidak pernah dilewati saat malam. Kakek mendongak dan mendapati seorang gadis berseragam berdiri di tepi JPO. Entah kenapa, ia mengambil sebuah karung dan alat cutil yang digantungkan di belakang gerobak sampah lalu berjalan menuju JPO. Sebelum naik, ia sempat melirik sebuah botol kaca kosong yang tergeletak di pinggiran tangga.

Sesampainya di atas, sang gadis tampak terkejut saat melihat Kakek. Namun setelah tau Kakek hanyalah pemulung, dia tampak tenang. Kakek terus memungut sampah tanpa mengatakan apapun. Keheningan menyelimuti JPO yang lampunya sudah setengah padam itu. Beberapa menit berlalu, si Gadis kembali berdiri di tepi JPO, membiarkan angin malam menerpa rambut pendeknya yang tampak berantakan. Ia lalu menginjak salah satu pegangan dengan kaki kanannya.

"Anu, apa saya boleh meminta tolong sesuatu?"

Akhirnya, Kakek membuka mulut. Gadis yang kaget langsung menurunkan kembali kakinya, menatap Kakek dengan tatapan bingung. "Bisa tolong ambilkan botol kaca yang ada di bawah tangga JPO?", lanjut Kakek. Hening. Sang Gadis terdiam sesaat, berpikir apakah Kakek waras. Namun akhirnya ia benar-benar menuruni tangga JPO untuk mengambil botol kaca yang tadi Kakek lihat. "Terima kasih", ucap Kakek sambil tersenyum. Gadis itu ikut tersenyum, lalu menjawab "Bukan apa-apa, Kek." Ia menunduk, memberi salam lalu berjalan memungut tasnya yang ada di lantai. Sebelum sempat turun, lagi-lagi Kakek mengucapkan sesuatu yang mengejutkan. "Kamu mau lompat?" Gadis berbalik, tampak terkejut dengan kata-kata Kakek. Wajahnya tampak kacau, panik. Kakek kembali tersenyum. "Mau bercerita ke Kakek?"

Lagi-lagi hening. Gadis tampak bingung. Di satu sisi, dia takut Kakek adalah orang tidak waras yang punya niat buruk kepadanya. Namun di sisi lain, dia berada di kondisi dimana dia benar-benar butuh seseorang disampingnya, paling tidak untuk mendengarkan ceritanya. Setelah berpikir beberapa menit, Gadis memutuskan untuk mengikuti Kakek. Mereka berdua menuruni JPO dan berjalan bersama hingga sampai di sebuah taman.

"Kamu tidak usah khawatir. Taman di sini cukup ramai meskipun saat malam. Jika kamu merasa saya melakukan hal yang aneh-aneh, kamu bisa berteriak dan orang-orang akan datang. Ah, tapi saya tidak berniat aneh-aneh kok!" Kakek lagi-lagi tersenyum. Si Gadis mulai merasa tenang karena suasana hangat yang diciptakan oleh Kakek. Dia mulai membuka mulut.

"Ayah saya adalah seorang pengusaha, dan ibu saya adalah seorang model. Ayah selalu ingin saya memiliki nilai akademis yang baik, dan Ibu ingin saya mengikuti jejaknya di dunia permodelan. Namun saya tidak bisa melakukan keduanya. Nilai akademis saya di bawah rata-rata dan saya memiliki masalah untuk berdiri di depan publik. Ayah dan Ibu mulai memberi saya banyak pelajaran dan tekanan sejak saya masih duduk di bangku SD. Namun saya tidak boleh mengeluh. Saya harus memenuhi ekspektasi mereka, hanya itu cara agar mereka mau menyayangi saya, memperlakukan saya seperti anak mereka."

"Di SMP, saya dirundung. Teman-teman saya menganggu dan menjauhi saya karena saya dianggap tidak bisa apa-apa. Akademis, olahraga, seni, saya tidak bisa itu semua. Saya juga pemalu dan tidak memiliki teman. Saya juga tidak memiliki penampilan fisik yang cantik. Di tengah-tengah kondisi itu, saya mulai menyadari ketertarikan saya dengan dunia fiksi. Saya suka membaca novel dan saya berharap suatu saat nanti saya bisa menulis satu. Saya mulai menuliskan apa yang ada di pikiran saya ke sebuah buku catatan. Tapi suatu hari teman-teman sekelas saya membaca buku saya. Mereka tertawa, mengatakan seberapa buruknya ide cerita saya dan bagaimana saya tidak akan bisa menjadi penulis. Saya benar-benar merasa kacau, tidak berguna. Saya tidak memiliki kelebihan apa-apa. Saya tidak bisa apa-apa. Saya rasa, orang seperti saya tidak layak hidup."

Gadis itu berhenti. Hawa dingin menusuk kedua orang asing yang bertukar pikiran di bawah sinar rembulan. Kakek bangkit, berjalan ke gerobak sampahnya dan mengambil sebuah botol kaca. Ya, itu adalah botol kaca yang Gadis ambil tadi.

            "Kau lihat botol ini? Kosong. Tidak berharga. Namun jika diisi air mineral, harganya 3 ribuan. Jika diisi jus buah, harganya 10 ribuan. Jika diisi madu, harganya 100 ribuan. Jika diisi minyak wangi terkenal, harganya jutaan. Dan jika diisi air got, dia akan kembali tidak berharga, tidak ada yang mau membelinya. Botol ini sama dengan manusia. Semua manusia pada dasarnya sama. Yang membedakan manusia dimata Tuhan bukanlah fisiknya, bukanlah nilai matematikanya. Tetapi keimanan, kejujuran, kemuliaan, serta kebaikannya dengan manusia lain. Kamu adalah orang baik. Saya tau itu. Mana ada orang jahat yang mau turun dari tangga JPO untuk membantu pemulung asing mengambil botol kaca. Tak apa jika kamu tidak memiliki kelebihan. Tak apa jika orang lain menganggap kamu tak bisa apa-apa. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah kepada anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadamu, yaitu kehidupan. Kamu memiliki kebaikan dan ketulusan yang bernilai tinggi di hadapan Tuhan. Itulah yang terpenting. Dan jangan menyerah kepada cinta-citamu. Satu-satunya orang yang mengerti tentang "harga"mu adalah dirimu sendiri. Kembangkan hal yang kamu sukai, jangan dengarkan kata orang lain. Apabila kamu masih belum bisa mencapai hal yang kau tuju, janganlah menyerah. Terus maju. Saya yakin, kamu akan menjadi botol yang memiliki harga yang tak terhingga di mata dunia."

Gadis menangis. Benar-benar menangis. Ini pertama kalinya ada orang yang mendengarkan cerita hidupnya dan memberinya semangat. Kakek terus tersenyum sambil mengusap tangannya di punggung si Gadis. Setelah meluapkan perasaan yang selama ini ia pendam, Gadis bangkit dari duduknya. Wajahnya yang sebelumnya kacau dan suram sekarang tampak lebih cerah. Dia mulai mendapatkan semangat hidupnya lagi. "Terima kasih, Kakek. Terima kasih telah mengingatkan saya seberapa berharganya hidup ini. Saya akan lebih menghargai diri saya, saya akan kembali mengejar mimpi saya. Saya tidak akan menyerah lagi. Sekali lagi, terima kasih Kakek !" Si Gadis tersenyum lebar, melambaikan tangan ke Kakek dan meninggalkan taman. Kakek hanya tersenyum sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.


Komentar

Postingan Populer